EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Enam Langkah Untuk Menciptakan Kedamaian Menurut Kitab Suci Atarva Veda

Pemikiran Hindu tentang kedamaian tersirat dan tersurat dalam Kitab Suci Veda, beberapa diantaranya sebagai berikut;
“Mitrasya ma caksusa sarwani Bhutani samiksantam,
Mitrasyaham caksusa sarwani Bhutani samikse,
Mitrasya caksusa samiksamahe” (Yayur Veda, XVI.18).

Artinya :
“Semoga mahkluk memandang kami dengan pandangan seorang sahabat, Semoga saya memandang semua mahkluk sebagai sahabat, Semoga kami saling berpandangan penuh persahabatan”.

“Om Dyauh santir antariksam santih,
Prthivi santir apah santih,
Osadhayah santih Vanaspatayah santir,
Visve devah santir brahma santih,
Sarvam santih santir eva santih,
Sa ma santir Widhi” (Yayur Veda, XXXVI.17).

Artinya :
Semoga ada kedamaian di Langit, damai di Angkasa, damai di Bumi, damai di Air, damai pada Tumbuh-tumbuhan, damai pada Pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah Alam Semesta, Semoga kedamaian senantiasa datang kepada kami”.

“Santam bhutam ca bhavyam ca
Sarvam eva sam astu nah “(Atharva Veda XIX.9.2).

Artinya :
“Semoga masa lalu, masa kini dan masa datang penuh kedamaian dan amat ramah kepada kami”.

“Om Asato masat gamaya,
Tamaso ma jyotir gamaya,
Mrtyor ma amrtam gamaya” (Brhad Aranyaka Upanisad, I.3.28).

Artinya :
“Ya Tuhan Bimbinglah kami dari ketidak benaran menuju kebenaran yang sejati, Bimbinglah kami dari kegelapan menuju jalan yang terang benderang, Bimbinglah kami dari kematian Rohani menuju kehidupan yang kekal abadi”.

Dari beberapa petikan mantra/sloka Suci (ayat suci) Veda di atas, memberikan sebuah perintah (intruksi) dan pesan kepada kita semua bahwa dalam hidup dan kehidupan ini kita harus tumbuhkan jiwa kemitraan/persahabatan untuk menciptakan kedamain di Alam Semesta ini termasuk di Bumi, sehingga terbentuk sebuah pondasi kedamaian yang kuat baik masa lalu, masa kini dan masa datang. Apabila kedamaian sudah ditanamkan dan ditumbuhkan di Alam Semesta/Bumi maka akan bermuara seperti apa yang di idamkan oleh sekalian Alam, yaitu munculnya cahaya-cahaya ke-Ilahian dalam diri manusia (divine Man), Cahaya-cahaya ke-Ilahian dalam kehidupan sosial masyarakat (divine Sociati), dan cahaya ke-Ilahian dalam lingkungan Alam (divine Ekosistem), yang berujung pada pencapaian kebahagiaan (kedamaian, keharmonisan, penyatuan, pemuliaan ) abadi.

Ajaran Agama Hindu mengkemasnya/meng-instan-kan dengan sebuah tujuan hidup atau Visi / Misi Hidup Yaitu : “Mosartam Jagadhita” kebahagian di Dunia dan Kebahagiaan di Alam Sunya (akhirat).

Untuk mewujudkan tujuan hidup itu, maka umat manusia harus memiliki impian tentang Kedamaian, impian ini penting dimiliki sebagai sarana untuk menambah spirit dan memotivasi diri untuk mewujudkannya.
Impian yang akan mengantarkan umat manusia kependakian spiritual untuk menumbuhkan karakter ke-Ilahian (kedewataan/Daiwi sampad) sebagai bekal rohani untuk menuju kebahagiaan (kedamaian) abadi. Pesan ini terdapat dalam Kekawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:

“Mucap ta ya tumut ri sabda yam anon mamoring mata”,
Pada waktu berkata beliau ada dalam perkataan, pada waktu melihat beliau ada dalam penglihatan,

“Ngungasta ya lulu tri gandha mamangan tumut mangrasa”,
Pada Waktu mencium/kepekaan beliau ada dalam kepekaan, pada waktu makan beliau ada dalam makanan,

“Mangidepa tumut ri citta matutur sama tankari”,
Pada Waktu berpikir beliau ada dalam pikiran, pada waktu berwacana beliau ada dalam wacana,

“Manusuksma siluman ri ngambeka sarira pancendriya”.
Hendaknya beliau menjadi intisari dalam tubuh yang selanjutnya di jawantahkan melaui segenap indriya.

Berdasarkan Kekawin Arjuna Wiwaha tadi, maka mari kita selalu mewartakan kedamaian itu dalam kata-kata, penglihatan/pandangan, kepekaan, makanan, pikiran, pewacanaan, hati/jiwa, dan selanjutkan amalkan melalui panca indriya.

Salah satu ajaran Sraddha menurut Atharva Veda, XII.1.1 menyatakan agar umat manusia melakukan enam macam perbuatan secara sinergi dalam hidupnya di bumi ini untuk menciptakan keharmonisan, kelestarian dan kedamaian di Bumi. Adapun lebih jelasnya sebagai berikut:

“Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo, brahma, yajna prthivim dharayanti”.

Terjemahannya.
“Sesungguhnya Kebenaran/Kejujuran/Kebajikan(satya), hukum (rta), inisiasi / penyucian (diksa), pengendalian indria (tapa), pujian / Gita / doa (brahma), pengorbanan (yajna) adalah yang menyangga Bumi” (Atharva Veda, XII.1.1).

Berdasarkan Mantra Atharva Veda tersebut dinyatakan bahwa ibu pertiwi atau Bumi akan seimbang (harmonis/damai) apabila disangga oleh Enam prilaku Suci. Enam prilaku suci sebagai Enam Langkah untuk Menciptakan Kedamaian /keharmonisan yang dimaksud adalah Satyam, Rtam, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yajña.

Untuk lebih jelasnya mari kita cermati dengan dasar pandangan dan pedoman yang dimaksud, adalah sebagai berikut:

1. Satyam = Perilaku kebenaran, Kebajikan, kejujuran, keadilan, tidak berbuat diskriminatif pada sesama, dan pengetahuan tentang kesucian dan kebenaran.
2. Rtam = Hukum alam dan hukum duniawi, prilaku untuk tidak merusak system hukum. Menata hidup dan kehidupan ini dengan prilaku yang tidak bertentangan dengan hukum alam (hukumnya Tuhan) dan hukum duniawi (hukum yang di buat manusia (berdasarkan musyawarah mufakat) agar prilaku manusia tidak menyimpang dan merusak system hukum sehingga kedamaian abadi dapat terwujud.
3. Diksa = Kesucian, penyucian (inisiasi), berprilaku kesucian. Agar nilai kesucian ini dapat diwujudkan dan berlangsung dan dipertahankan secara berkesinambungan maka salah satu sastra suci yang dapat di pedomani adalah seperti ucap sastra suci dalam Lontar Silakrama, 41 adalah sebagai berikut :

“Sudhdha ngaranya enjing-enjing madyusa suddha sarira, masurya sevana, mamuja, majapa, mahoma”.
Terjemahannya.
“Sucilah namanya, tiap hari menyucikan diri, mandi, sembahhyang kepada Tuhan, melakukan pemujaan, berjapa dan melaksanakan upacara yajna/homa yajna/agni hotra”.

4. Tapa = Pengekangan diri, pengendalian indria atau berprilaku dengan menahan diri dari hawa nafsu yang berlebihan. Dalam hidup dan kehidupan ini dibutuhkan sebuah pengendalian diri, agar tidak terjerumus kelembah penderitaan atau agar tidak memunculkan sebuah konflik baru yang menyebabkan nilai kesucian, kebersamaan, penyatuan, keharmonisan dan pemuliaan menjadi semakin jauh. Sehingga dalam hal ini pengendalian diri sangat penting, sehingga konsep mensorgakan (kedamaian abadi) dunia ini dapat diwujudkan. Agar dapat melakukan pengendalian diri dengan baik, mari kita berpedoman kepada sastra suci, seperti yang dinyatakan dalam Lontar Jnana Tattwa, 102-103 adalah sebagai berikut:

“Nihan kang prayogasandhi, kengetakena, prayogasandhi ngaranya, upaya lwirnya, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, Samadhi, maka pusa pusika kabeh, sandhi ngaranya”.

Terjemahannya.
“Inilah prayogasandhi, hendaknya diingat, prayogasandhi artinya Usaha, yaitu Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Tarka, dan Samadhi, ikatan semua itu disebut sandhi”.

Sastra ini memberikan petunjuk untuk selalu melakukan Tapa dengan metode-metode/langkah seperti yang tersebut dalam Jnana Tattwa itu.

5. Brahma = Berdoa, melantunkan kidung-kidung suci / Gita, prilaku yang selalu melantunkan doa / gita untuk memberikan vibrasi kesucian pada diri sendiri, orang lain dan seluruh sekalian alam. Prilaku untuk selalu melantunkan Brahma / Doa / Gita / Kirtanam / Zikir Suci penting untuk dilakukan sehingga dengan Brahma ini semakin mempertahankan nilai-nilai Satyam (kebenaran), Sivam (kesucian) dan Sundaram (keharmonisan dan estetika). Misalnya, melantunkan Kirtanam , Ma- Dharma Gita / Zikir.

6. Yajña = Pengorbanan, prilaku atau perbuatan nyata untuk ikhlas berkorban demi tegaknya kebenaran dan kesucian. Hakekat dari prilaku yajna itu harus tetap yang menjadi dasar dan tujuan dari hidup dan kehidupan ini, seperti ucap sastra suci Agastya Parwa ada ditegaskan yajna adalah sesuatu prilaku untuk mencapai sorga/kedamaian dapat di wujudkan. sebagai berikut:

“Kalinganya: tiga ikan karyamuhara swarga ; tapa, yajna, kirtti….”.

Terjemahannya.
Ada tiga macam prilaku yang menyebabkan Kedamaian / Sorga, yaitu Tapa (pengendalian diri), Yajna (Pengorbanan Suci,Iklas berkarma / kerja), Kerti (kebajikan)…”.

Kutipan sastra tersebut secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tentang tiga macam perbuatan (karma) yang menyebabkan seseorang dapat menciptakan sorga di dunia, baik dalam dirinya, orang lain maupun sekalian alam. Yang mana salah satu prilaku (karma) itu adalah dengan melaksanakan Yajna. Selanjutnya yang tidak kalah penting Silakramaning dari yajna itu (etika dalam beryajna) harus diperhatikan agar yajna itu termasuk yajna yang Sattvika (yajna yang paling baik). Menurut Kitab Suci Bhagavadgita, XVII.11 terurat dan tersirat sebagai berikut :

“Aphalakanksibhir yajno,
Vidhi-drsto ya ijyate,
Yastavyam eveti manah,
Samadhaya sa sattvikah”.

Artinya :
Yajna sesuai dengan petunjuk kitab-kitab suci, dilakukan dengan penuh keikhlasan, dengan keyakinan yang kuat, dilakukan yajna dengan dasar tugas dan kewajiban, ini adalah yajna yang sattvika”.

Kemudian menurut sastra suci Ketattwaning Tapini dan Rare Angon, ada beberapa hal yang harus di kendalikan (etika beryajna) dalam beryajna sbb:

“ Yan hana wong kumingkin karya hayu: (kalau ada umat manusia yang ingin melakukan/berbuat kebajikan )
· Awya sira pwang anglem druwya (tidak boleh tidak ikhlas).
· Aywa Wak purusa (tidak boleh berkata kotor yang menjauhkan dari kesucian).
· Aywa ujar apergas (tidak boleh berkata kasar yang menyebabkan disharmoni).
· Aywa Ujar gangsul (tidak boleh berkata keras yang menyebabkan pertikaian).
· Ujar menak pwa sira warahan (berkatalah yang baik mesti diucapkan)”.

Demikianlah bahwa apabila kita laksanakan dengan pemahaman yang baik kemudian dibarengi dengan upaya untuk mewujudkan nilai-nilai yang dikandungnya, maka prilaku-prilaku tersebut akan menciptakan kedamaian di Bumi. [RA]