EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Hindu dan Kearifan Lokal

Ajaran Hindu bersumber pada susastra Veda yang terdiri atas kitab-kitab: Sruti, Smrti, dan Nibandhasastra. Berdasarkan sumber tersebut, umat Hindu mengembangkan perilaku keberagamaannya dan melalui akal budhinya mewujudkan beranekaragam budaya keagamaan. Penerapan budaya keagamaan tersebut terus berkembang dari daerah asalnya (India/ Bharatawarsa) dan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat.

Kedatangan agama Hindu dari India ke wilayah Nusantara, ternyata berjalan secara alami dan tidak mendapatkan tantangan atau konflik yang menyulut peperangan. Dalam penyebarannya, bahkan agama Hindu tidak menghilangkan wujud-wujud fisik dari ajaran lokal (adat-istiadat) Nusantara. Kearifan lokal yang ada, ditempatkan pada posisi terhormat dan mendapatkan perlakuan yang sama serta dijadikan bagian dalam simbol-simbol Hindu. Dengan demikian, ciri-ciri asli wujud kearifan lokal itu tidak pernah sirna sehingga selalu ada identitas yang melekat pada pengamalan tradisi mereka.

Wujud fisik tersebut, sampai saat ini masih dapat “terbaca” yang membuktikan bahwa pada masa lalu kearifan lokal tersebut pernah eksis. Komunitas lokal (masyarakat adat) dengan beragam keyakinannya tidak pernah merasa terusik, sehingga semuanya masih cukup lengkap baik ditinjau dari sisi filsafat (tatwa), etika (susila) maupun ritual (upakara/upacara). Seandainya terjadi penyesuaian dari bahasa lokal ke bahasa Veda maka penyesuaian tersebut tidak pernah menimbulkan konflik. Penyesuaian tersebut berjalan alami dan secara bertahap dipahami sebagai sebuah pemahaman baru tanpa adanya perubahan yang bersifat prinsip terhadap keyakinan asli mereka. Contohnya, ketika pada awal abad pertama, pendatang dari India ke Jawa Barat ternyata telah menemukan keyakinan lokal dalam bentuk pemujaan api, kemudian bersinkritis ke dalam pemujaan Dewa Agni.

Kearifan lokal di berbagai daerah di wilayah Nusantara memiliki keunikan tersendiri bukan hanya bentuk tradisi dan sistem keyakinannya, tetapi juga persepsi terhadap budaya keagamaan. Di beberapa daerah, seperti di Sumba (komunitas Merapu) dan Sidrap (komunitas Tolotang), mereka tidak menggunakan istilah budaya tetapi adat-istiadat. Adat-istiadat tidak membedakan agama melainkan, lebih mengedepankan tradisi komunitas kesukuan dan ras. Hal seperti ini dapat ditemukan juga di Pakistan (walaupun mereka beragama Islam, etnis India tetap mengenakan busana sari). Di Bali sendiri, adat-istiadat merupakan representasi dari sifat-sifat agama Hindu. Masalahnya untuk di luar Bali, bagaimana kita bisa mengemas adat-istiadat yang kini lebih dikenal dengan sebutan kearifan lokal supaya tampilannya lebih indah dan menawan. Adat-istiadat atau kearifan lokal di masing-masing daerah akan memperkuat budaya, dan juga akan memupuk jati diri bangsa.

Dengan diterimanya Hindu sebagai ajaran baru yang tidak mengubah tatanan keyakinan lokal (adat-istiadat) yang lebih populer dengan sebutan kearifan lokal, menggambarkan bahwa Hindu yang bersumber dari Veda sangat akomodatif terhadap kearifan lokal. Apa yang diaplikasikan dalam keseharian oleh komunitas Hindu Nusantara yang Bhinneka, setiap waktu berkembang dan mengalami perubahan sebagai wujud penyesuaian yang dinamis serta alami tanpa mengubah maknanya. Dalam perkembangan selanjutnya, ajaran Hindu yang diwarnai oleh kearifan lokal (adat istiadat), semakin lama bersinkritisasi menjadi bagian dari ajaran Hindu itu sendiri.

 

Sumber: Keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia

Nomor: 03/Kep/SP/PHDI/IX/2017 tentang Penerapan Budaya Keagamaan Hindu di Nusantara