EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Kembali diungkitnya sejarah Dharmasraya Melalui Festival Pamalayu

Kabupaten Dharmasraya, Sumatra barat adalah Kabupaten yang tersohor dengan julukan Ranah Cati Nan Tigo itu memiliki sisa kejayaan masa lampau dari kerajaan Melayu yang bercorakan Hindu-Buddha dan di hulu Sungai Batanghari juga tersimpan rapi tapak-tapak reruntuhan negeri tua yang berserakan di beberapa lokasi.

Meski pada 7 Januari 2020, Kabupaten Dharmasraya baru berusia 16 tahun, namun nama Dharmasraya sudah tercatat dalam sejarah beratus tahun silam sebagai ibukota Kerajaan Melayu di Pulau Sumatra.

Melihat dari sejarahnya, yang ditertuang dalam buku Menguak Tabir Dharmasraya terbitan BPCB Batusangkar, Dharmasraya adalah nama sebuah kerajaan besar yang berdiri di Pulau Sumatra berabad-abad silam.

Kembali diungkitnya sejarah Dharmasraya dimulai oleh Sutan Riska Tuanku Kerajaan, ia selaku bupati Dharmasraya membuat Festival Pamalayu yang digelar secara maraton sejak 22 Agustus 2019 sampai 7 Januari 2020. Berbagai kegiatan digelar termasuk Talkshow Heritage, Arung Pamalayu, dan Pelestarian Cagar Budaya.

Festival Pamalayu yang mengusung tema Merayakan Dharmasraya, bagi Sutan Riska punya makna tersendiri, untuk mengajak khalayak ikut riang gembira merayakan agenda Festival Pamalayu. Festival Pamalayu juga dianggap sebagai ajang persahabatan dengan daerah-daerah sekitar Dharmasraya, terutama DAS Batanghari.

Melalui Festival Pamalayu, sejarah Dharmasraya yang selama ini dianggap sedikit melenceng, patut diluruskan agar generasi muda tidak salah kaprah terhadap sejarah Dharmasraya, terutama terkait Ekspedisi Pamalayu.

Ekpedisi Pamalayu selama ini dianggap sebagai sebuah upaya penaklukan Jawa atas Malayu (Melayu). Kenyataannya dalam fakta sejarah belum ada pembuktian secara otentik yang mengatakan bahwa ekspedisi tersebut merupakan penaklukan.

Di kutip dari Garta.com dalam pembukaan Ekspedisi Pamalayu di Museum Nasional, Sutan Riska menyatakan narasi penaklukan yang terbangun di sini nampaknya butuh diluruskan.

“Bagaimana mungkin bisa dikatakan sebagai penaklukan, sedangkan ada pengiriman arca Amoghapasa. Amoghapasa melambangkan kasih sayang,” ungkap Sutan Riska di Jakarta pada penghujung Agustus lalu.

Raja Kertanegara memerintahkan Rakryan Mahamantri Dyah, Adwayabrahma, Rakryan Sirikan Dyah Sugatabrahma, Samgat Payanan Hang Dipangkara, dan Rakryan Dmung pu Wira untuk mengiringi Arca Amoghapasa ke tanah Melayu (Dharmasraya) dalam ‘Ekspedisi Pamalayu’ pada 22 Agustus 1286.
Arca Amoghapasa sendiri ditemukan di situs Rambahan yang berlokasi di Jorong Lubuk Bulang, Nagari IV Koto Pulau Punjung, Kecamatan IV Koto Pulau Punjung. sedangkan alasnya ditemukan di Padangroco, Sei Langsek sekitar 5 km arah hilir Batanghari. Baik arca maupun alas kakinya sekarang berada di Museum Nasional, Jakarta.

Prasasti Dharmasraya ditulis dalam huruf Jawa Kuna, dengan bahasa Melayu Kuna dan Sanskrta. Dari data Prasasti Dharmasraya dapat diketahui bahwa Arca Amoghapasa yang dikirim Raja Kertanegara sebagai tanda persahabatan.