EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Makna dan Jenis Segehan

Segehan adalah tingkatan kecil / sederhana dari Upacara Bhuta Yadnya. Sedangkan tingkatan yang lebih besar lagi disebut dengan tawur.

Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang, janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti “bawang merah, jahe, garam” dan lain-lainnya.
Segehan artinya “Suguh” (menyuguhkan), dalam hal ini segehan di haturkan kepada para Bhutakala agar tidak mengganggu dan  juga Ancangan Iringan Para Betara dan Betari, yang tak lain adalah akumulasi dari kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu.
Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).
Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.

Jenis-Jenis Segehan

1. Segehan Kepel Putih

Segehan kepel putih ini adalah segehan yang paling sederhana dan biasanya seringkali di haturkan setiap hari.

2. Segehan Putih Kuning

Sama seperti segehan putih, hanya saja salah satu nasinya diganti menjadi warna kuning.
biasanya segehan putih kuning ini di haturkan di bawah pelinggih adapun doanya sebagai berikut :

Om Sarwa Bhuta Preta Byo Namah.

Artinya :
Hyang widhi ijnkanlah hamba menyuguhkan sajian kepada bhuta  preta  seadanya.

3. Segehan Kepel Warna Lima (Manca Warna)

Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja warna nasinya menjadi 5, yaitu putih, merah, kuning, hitam dan brumbun. Dan penempatan warna memiliki tempat atau posisi yang khusus yaitu:

Warna Hitam menempati posisi Utara.
Warna Putih menempati posisi Timur.
Warna merah menempati posis selatan.
Warna kuning menempati posisi Barat.
Sedangkan Warna Brumbun atau kombinasi dari ke empat warna di atas menempati posisi di tengah tengah, yang bisa di katakan Brumbun tersebut sebagai Pancernya.

Segehan Manca Warna ini biasanya di letakkan pada pintu masuk pekarangan (lebuh pemeda­l)atau di perempatan jalan adapun doa dari segehan manca warna ini adalah :

Om Sarwa Durga Prate Byo Namah.

Artinya :
Hyang Widhi Ijinkan Hamba Menyuguhkan Sajian Kepada Durga Prete Seadanya

4. Segehan Cacahan
Segehan ini sudah lebih sempurna karena nasinya sudah dibagi menjadi lima atau delapan tempat. sebagai alas digunakan taledan yang berisikan tujuh atau Sembilan buah tangkih.
Kalau menggunakan 7 (tujuh) tangkih, sebagai berikut:

5 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di timur, selatan, barat, uatara dan tengah.

1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
kemudian diatas disusun dengan canang genten.

Kalau menggunakan 9 (sembilan) tangkih,sebagai berikut:

9 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di mengikuti arah mata angin.
1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
kemudian diatas disusun dengan canang genten.

Keempat jenis segehan diatas dapat dipergunakan setiap kajeng kliwon atau pada saat upacara–upacara kecil, artinya dibebaskan penggunaanya sesuai dengan kemampuan.

5. Segehan Agung
Merupakan tingkat segehan terakhir.
Segehan ini biasanya dipergunakan pada saat upacara piodalan, penyineban Bhatara, budal dari pemelastian, serta menyertai upacara Bhuta Yadnya yang lebih besar lainnya.

Setiap menghaturkan segehan lalu di siram dengan tetabuhan..

Om. Ibek Segar, Ibek Danu, Ibek Bayu, Premananing Hulun.

Artinya :
Hyanng widhi semoga hamba di berkahi bagaikan melimpahnya air laut, air danau, dan memberi kesegaran jiwa dan batin hamba.