EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Makna dan Tujuan Tirtayatra

tirtayatra adalah niat tulus untuk mengunjungi tempat-tempat suci atau tempat bersejarah dan tempat-tempat lain yang dikeramatkan.

Tirtayatra bertujuan untuk melihat dari dekat tempat bersejarah untuk menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Hindu, agar dapat mempertebal Panca Sradha (lima keyakinan) dan kebenaran terhadap sejarah perkembangan ajaran Hindu.

Untuk meyakini sesuatu, kita memiliki cara yang disebut dengan Tri Premana (tiga cara) yaitu: Agama Pramana yang dimaksudkan adalah bahwa kita meyakini adanya sesuatu berdasarkan atas informasi yang kita terima dari pelajaran yang diberikan oleh para guru/para ahli atau cerita-cerita dari orang-orang suci yang telah lebih dahulu mengalami yang kita percayai; Anumana Pramana yaitu kita meyakini sesuatu atas dasar hasil analisa akan suatu penomena baik alam, flora, fauna dll; Pratyaksa Pramana dimana kita meyakini sesuatu atas dasar penglihatan langsung atau pengalaman pribadi yang tiap-tiap orang tidaklah sama pengalaman spiritualnya.

Selama melaksanakan tirtayatra (perjalan suci) para yatri (peserta) akan mendengarkan cerita-cerita mengenai tokoh sejarah atau tempat yang dikunjungi (Sravanam), pada saat tertentu juga turut menyanyikan kidung suci keagamaan atau menyebut-nyebut nama Tuhan berulang-ulang (kirtanam), dalam perjalanan selalu mengingat Tuhan dengan segala manifestasinya (Smaranam), melakukan pemujaan di beberapa, Pura atau Mandir (Arcanam), juga ada kesempatan membaca cerita-cerita suci keagamaan atau sloka-sloka kitab suci (Wandanam), selalu berusaha mengabdi kepada Tuhan dengan jalan mengekang rasa ego atau ahamkara (Dasyam), ada juga yang melakukan pemujaan dengan merebahkan diri tertelungkup di hadapan yang dipuja, Tuhan dilambangkan amat agung, cara ini dikenal dengan istilah “memuja kaki padma Tuhan” (Padesevanam).

Dalam kitab Sarasamuscaya disebut tempat suci adalah Pura (Temple, Kuil, Candi), tempat-tempat lain seperti: Campuhan (pertemuan air laut dengan sungai atau pertemuan dua sungai atau lebih), Mata Air, Gunung, Sungai dan Danau yang di tiap-tiap pulau pasti ada Petirtaan (tempat pensucian atau petilasan).

Menurut kitab-kitab Purana tempat pensucian yang dijadikan tempat upacara penyucian diri dengan cara mandi yaitu: Allahabad (Prayag), Haridwar, Awanti dan Nasik.
Di 4 (empat) tempat tersebut diyakini sebagai tempat tercecernya titha amertha (air kehidupan) saat para Dewa merebutnya dari tangan-tangan para Danawa.

Banyak tempat-tempat penting dalam sejarah perkembangan agama Hindu yang dapat dijadikan tujuan seperti lembah Sungai Sindhu (tempat para Rsi menerima wahyu), Jyotisar (tempat yang diyakini, bahwa di tempat tersebut untuk pertama kalinya Sri Kresna, memberikan wejangan suci kepada Arjuna), Hutan Tulasi (tempat masa kecil Sri Kresna), lapangan Kuru Ksetra (tempat terjadinya perang Mahabaratha), Gunung Citrakuta tempat pengembaraan Sri Rama, Gunung Kaelasa dll.

Melakukan tirtayatra bukanlah perjalanan biasa untuk mengkeramatkan tempat-tempat tersebut, tetapi untuk menambah keyakinan akan kebenaran ajaran Hindu dan meningkatkan rasa bhakti, mengagumi kemaha kuasaan serta kebesaran Tuhan, kemanapun dan dimanapun kita memuja atau menyembah tetap ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya (Ista Dewata) menurut cara masing-masing, selalu menghormat kepada: para Rsi, leluhur yang telah mendahului kita, sebagai sesama Manusia dan Bhuta (mahluk lain), sehingga terciptalah hubungan yang harmonis antara kita sesama Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Pencipta), antara manusia dengan alam lingkungan tempat kita hidup (Tri Hita Karana).[RA]