EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Makna Penggunaan dan Jenis Udeng

Udeng memiliki simbol sebagai “ngiket manah” (memusatkan pikiran) yang merupakan sumber penggerak panca indera. Tiap-tiap lekukan udeng memiliki makna, yaitu:

  • Lekuk di kanan lebih tinggi daripada di kiri berarti hendaknya kita lebih banyak melakukan hal yang baik (dharma) dari pada berbuat buruk (adharma)
  • Ikatan di tengah-tengah kening bermakna memusatkan pikiran kita.
  • Ujung ke atas melambangkan Pemikiran Lurus ke atas untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa.

Udeng digunakan pada saat sembahyang dan sebagai kelengkapan busana adat bali, udeng memiliki simbol Ketuhanan orang Bali yang menyatukan Tri Murti dalam simpul “nunggal”,

  • Tarikan ujung kain kanan melambangkan Wisnu,
  • Tarikan ujung kain kiri melambangkan Brahma,
  • Ujung kain di atas yang ditarik ke bawah melambangkan Siwa,

Artinya orang bali men-Tuhan kan Tri Murti sebagai satu kesatuan yang utuh dalam perlambang udeng yang digunakan. Dengan menggunakan udeng secara garis besarnya disebutkan hendaknya kita selalu berbuat yang baik sehingga nantinya kita dapat bersatu dengan-Nya (Moksa)

Jenis Udeng

Udeng dalam makna pakaian adat ke pura disebutkan secara umum dibagi tiga yakni:

  • Udeng jejateran (udeng untuk persembahyangan) menggunakan simpul hidup di depan, disela-sela mata, sebagai lambang cundamani atau mata ketiga.
  • Udeng dara kepak, masih ada bebidakan tetapi ada tambahan penutup kepala yang berarti symbol pemimpin yang selalu melindungi masyarakatnya dan pemusatan kecerdasan.
  • Udeng beblatukan (dipakai oleh pemangku) tidak ada bebidakan, hanya ada penutup kepala dan simpulnya di belakang dengan diikat ke bawah sebagai symbol lebih mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. [RA]