EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW (+62)813 84 90 8000
Registrasi

Nilai-Nilai Pancasila dalam Ajaran Hindu [Sila Pertama]

Pancasila telah ditetapkan sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali dari nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia sendiri. Dalam kedudukannya sebagai falsafah bangsa, nilai-nilai Pancasila harus diyakini kebenarannya agar bangsa Indonesia tetap kokoh memegang teguh kepribadiannya guna menghadapi segala fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Dalam ajaran Hindu dijelaskan agar setiap umat melaksanakan dua dharma sekaligus, yaitu dharma agama dan dharma negara. Dalam melaksanakan dharma negara, Pancasila sebagai landasan ideologi, sekaligus sebagai dasar negara Republik Indonesia wajib diamalkan oleh umat Hindu melalui penerapan nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalam kelima silanya.

Nilai-nilai Pancasila memberi tempat yang subur bagi setiap warganegara Indonesia untuk menganut dan mengamalkan keyakinan agamanya, mengembangkan rasa dan sikap kemanusiaan yang berbudaya, menjalin kebersamaan dan persatuan, mengelaborasi kesamaan cita-cita dan tujuan berbangsa, sekaligus cara mencapainya serta mendorong itikad mewujudkan keadilan sosial di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang bhinneka.

Untuk itu, melalui sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Setiap orang mengaktualisasikan keyakinan dan ketakwaannya itu sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaannya menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam konteks kehidupan sosial, dikembangkan sikap saling menghormati dan bekerja sama di antara mereka untuk dapat membina kerukunan hidup serta tidak memaksakan agama dan kepercayaannya itu kepada orang lain.

Menurut ajaran Hindu, penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengandung pengertian proses secara sadar untuk dapat mengerti dan merasakan kebenaran-Nya, kemudian melaksanakan pengertian itu sebagai amal secara nyata dalam bentuk tingkah laku sehari-hari.

Agama Hindu melalui kitab Maha Nirvana Tantra pasal 13, mengajarkan cara penerapan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa secara verbal dalam bentuk pengucapan mantra: “Om Saccid ekam Brahma” yang bermakna bahwa Tuhan itu ada, bersifat pikir dan esa, dengan gelar Brahma. Dengan mengucapkan mantra itu tidak diperlukan syarat lain, kecuali yakin (sraddha) bahwa dengan pengucapan itu mereka percaya terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan mengucapkan, berarti harus percaya bahwa Tuhan benar-benar ada (Om Sat), walau pun tidak dapat dilihat bentuknya kecuali dalam pikiran (Cit), Tuhan itu Esa (ekam Sat), dinamakan Brahman, atau apapun nama yang diberikan untuk pengertian itu. Selanjutnya, dalam pasal 17 dinyatakan bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sujud pasrah (bhakti) kepada-Nya akan memeroleh pahala dalam bentuk dharma, artha, kāma, dan mokṣa yang dinikmati di dunia ini maupun di alam niskala.

Pengertian Ketuhanan Yang Maha Esa juga dinyatakan dalam kitab Brahma Sutra 1.2 melalui kalimat singkat (sutra) yang berbunyi: Janmadyāsya yatah”, medefinisikan secara singkat bahwa Tuhan adalah dari mana semua ini berasal. Jadi, Tuhan adalah sumber dari mana semua yang ada ini berproses.

Oleh karena itu, segala makhluk atau segala yang ada, segala yang diciptakan sesungguhnya berasal dari dan disinari spirit kehidupan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keesaan Tuhan dijelaskan pula dalam Ṛg Veda I.164.146 yang berbunyi:

Indram mitram varunam agnim,
Sa suparno garutman,
Ekam Sad Vipra bahudha vadanti,
Agnim Yamam Matarisvanam ahuh.

Dia adalah Indra, Mitra, Varuna, Agni,
Garutman bersinar indah,
Tuhan itu Esa, para bijaksana menyebut
dengan banyak nama,
seperti: Agni, Yama, Matarisvan.

Kitab Svetasvatara Upanisad VI.11, menyatakan:
“Satu sinar Tuhan tersembunyi (gaib) dalam setiap makhluk,
meresapi jiwa seluruh insan. Dia menggerakkan dan
memerintah makhluk,
serta menjadi saksi abadi yang bebas
dari segala sifat ciptaan-Nya”.

Dengan demikian, umat Hindu mengaktualisasikan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran yang tercantum di dalam kitab sucinya sehingga dapat merasakan kebebasan dan kebahagiaan dalam menjalankan ibadat (yajña).

Nantikan ulasan untuk Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab.