EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW (+62)813 84 90 8000
Registrasi

“Nyepi Escape” dan Manusia Takut Sepi

Oleh: Angga Wijaya*

Hari raya Nyepi dua tahun ini terasa berbeda. Internet dimatikan. Awalnya berupa usulan dari PHDI Bali yang kemudian disetujui pemerintah.Walaupun menimbulkan pro dan kontra (diskusi dan debat lebih banyak di media sosial) usulan mematikan jaringan internet akhirnya menjadi keputusan yang tak bisa diganggu-gugat yang berlaku selama Nyepi berlangsung.

Seorang kartunis menggambarkan catur brata penyepian kini ditambah satu anjuran lagi, amati internet, tidak menghidupkan internet, dan pelarangani internet saat Nyepi menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

“Ini sih bukan menyepi namanya, tapi disepikan,” seorang teman menulis di akun Facebooknya, lengkap dengan argumen yang mempertanyakan kenapa PHDI kini mengurusi urusan privat umat hindu yang berimbas pada umat beragama lain yang ada di Bali, seakan-akan mereka’dipaksa’ mengikuti agama dan budaya di Bali.

“Kita harus mengakui, bahwa saat Nyepi memang ingin rehat, jadi ya harus sepi. Kalau tidak bisa, tinggalkan Bali saat Nyepi. Misalnya ke Banyuwangi,” seorang pejabat tinggi berkata ketika dimintai pendapatnya soal pelarangan internet saat Nyepi.

Dua pendapat berseberangan, dan saya mencoba tak memihak salah satunya, karena masing-masing memiliki alasan kuat yang mendukung pendapatnya. Saya melihat Nyepi adalah sebuah paradoks, di satu sisi anjuran melaksanakan catur brata penyepian begitu gencar disampaikan, oleh pejabat maupun tokoh agama namun di sisi lain tattwa atau pengetahuan filsafat tentang makna Nyepi jarang sekali kita dapatkan, paling hanya penjelasan singkat tentang Nyepi seperti yang kita temui pada teks buku-buku agama hindu yang diajarkan di sekolah.

Nyepi adalah sebuah perayaaan keheningan. Sebuah kata yang makin jarang atau bahkan menghilang dalam keseharian. Di tengah dunia yang setiap hari bising oleh deru kendaraan dan arus informasi yang memborbardir pikiran, perayaan Nyepi menjadi sebuah kerinduan. Dalam sehari manusia diajak berhenti sejenak dari segala aktivitas, baik fisik maupun mental guna masuk dalam keheningan. Disarankan saat Nyepi untuk bermeditasi, puasa (bahkan mona atau puasa bicara) membaca kitab suci dan buku spiritual, berjapa atau mengulang mantra dan nama suci Tuhan. Nyepi menjadi hari yang spesial, sebuah momen melakukan perjalanan ke dalam diri, ini bentuk laku spiritual yang pada zaman dahulu lazim dilakukan dan kini bergema kembali; ajakan untuk meniti ke dalam diri. Bagi peminat dan penekun spiritualitas Nyepi adalah hari yang ditunggu-tunggu, mereka yang terbiasa melakukan meditasi menjadikan Nyepi sebagai kesempatan untuk melakukan laku spritual guna menggapai pencerahan batin.

Bagi orang awam Nyepi bisa jadi memiliki makna berbeda. Terlebih bagi yang tak terbiasa sepi, Nyepi terasa begitu menyiksa. Internet yang dimatikan menjadi momok mengerikan, tanpa internet bahkan untuk sehari saja dunia terasa kiamat. Maka itu paket wisata Nyepi yang ditawarkan banyak hotel dan vila di Bali mendapat sambutan hangat. “Nyepi Escape” adalah satu di antara paket Nyepi ditawarkan sebuah hotel yang iklannya saya baca di sebuah koran. Menarik dicermati kenapa “escape” yang bermakna “melarikan diri” dijadikan nama sebuah paket wisata. Apakah karena takut gelap, tak bisa menyalakan lampu dan TV, takut tak bisa makan karena anjuran tak menyalakan api/memasak sehingga mesti melarikan diri ke hotel atau vila yang di sana lampu dan TV kabel menyala 24 jam, makanan tersedia dan tidur tanpa gangguan? Entahlah.

Harus kita akui, perayaan Nyepi yang sejatinya tak hanya sebuah festival kini mulai dilirik dunia. Tak sedikit tamu asing yang sengaja ke Bali untuk mengetahui dan merasakan lebih dekat suasana hening saat Nyepi, sebab tak ada tempat di belahan dunia lain yang dalam sehari terasa hening dan sepi, tak ada deru kendaraan bahkan pesawat yang melintas. Ini seharusnya menjadi sesuatu yang membanggakan, dan kesadaran untuk merayakan keheningan hendaknya datang dari setiap individu, sehingga tak perlu lagi diatur-atur, memasuki ranah privat umat seakan kita seperti anak kecil yang tak pernah dewasa dalam menjalankan ajaran agama.

Di sisi lain, marilah Nyepi di masa mendatang kita gunakan sebagai momen untuk melakukan perenungan, berhenti dari segala aktivitas untuk hening dan merayakan keheningan. Tidak malah memaanfatkan Nyepi untuk hal-hal tak berguna, seperti mengobrol dan bergunjing atau bermain judi. Semoga Nyepi menjadi titik awal kesadaran baru, pemahaman dan pemaknaan Nyepi yang tak lagi dangkal dan sekadar teori serta merayakan keheningan dengan kemauan dan kesadaran, kembali pada hakekat Nyepi sesungguhnya. (*)

*) Penyair dan wartawan, tinggal di Denpasar