EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Pandangan Hindu Terhadap Radikalisme

Radikalisme merupakan gerakan dari kelompok-kelompok tertentu untuk mengganti Pancasila, NKRI serta menolak Bhineka Tunggal Ika. Kelompok radikal ini tidak segan melakukan tindakan yang bersifat diskriminatif dengan cara-cara kekerasan.

Perkembangan kelompok radikal yang mulai muncul di Indonesia tahun 1983, ternyata berkembang pesat dan jumlahnya mencapai 11 juta pada tahun 2011. Kemudian 2016 jumlahnya mencapai 20 juta. Pertengahan tahun 2018, 39% mahasiswa perguruan tinggi favorit sudah terpapar paham radikalisme. Mereka melakukan berbagai gerakan untuk mengganti Pancasila dan NKRI tercatat sebanyak 370 kegiatan dalam berbagai bentuk di seluruh wilayah Indonesia.

Agama merupakan sendi yang suci bagi kehidupan. Agama sangat diperlukan untuk membimbing umat manusia guna menemukan jalan kehidupan yang benar. Dengan menghayati ajaran agamanya secara benar maka manusia atau komunitas umat dapat meningkatkan spiritualitas, etika, dan moralitasnya yang sangat berguna bagi upaya mencapai kesejahteraan lahir dan batin (moksartham jagadhitaya).

Misi keagamaan dalam ajaran Hindu adalah Menyampaikan nilai-nilai kebenaran yang bersifat universal seperti:

  • Etika hidup
  • Moralitas
  • Mewujudkan kesejahteraan dunia (Jagadhita)
  • Pembebasan jiwa dari belenggu maya (Duniawi)
  • Untuk mencapai kedamaian abadi (Moksa)

 

Tat Tvam Asi
“Itu, yang merupakan esensi halus seluruh alam ini adalah dirinya sendiri, itulah kebenaran, itulah Atman, Itu adalah Engkau…” Bahwa setiap manusia adalah saudara dari manusia lainnya dan teman dari insan ciptaan-Nya. (Chandogya Upanisad IV.8.7)

Sesanti Tat Tvam Asi ini menjadi landasan etika dan moral bagi umat Hindu di dalam menjalani hidupnya sehingga ia dapat melaksanakan kewajibannya di dunia ini dengan harmonis. Berpedoman pada filsafat Tat Tvan Asi umat Hindu wajib mengamalkan ajaran agamanya secara inklusif menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Enam dasar utama dalam kehidupan beragama

  • Satyam (Kebenaran)
  • Dharma (Kebijakan)
  • Seva (Pelayanan)
  • Santih (Kedamaian)
  • Ahimsa (Tanpa kekerasan)
  • Prema (Cinta-kasih)

Dalam kitab suci Veda ditetapkan ditekankan bahwa setiap manusia hendaknya sadar bahwa tuhan adalah sumber kebenaran, kesadaran dan kebahagiaan (sat citt anandam Brahman) yang mengisi spirit kehidupan kepada semua makhluk. Hukum suci-nya adalah kebajikan (dharma) yang mengendalikan semua ciptaan, apa yang ada diisi dan dikendalikan oleh tuhan (Isvasyam idam sarvam). Oleh karena itu, setiap orang harus melakukan pelayanan dengan hati penuh kedamaian, menghindari tindakan kekerasan dangan menggembangkan cinta-kasih dan saling menyayangi. Imanensi Brahman Yang Esa dalam ciptaan-nya akan menjadi saksi abadi yang bebas dari sifat segala ciptaan-nya itu (saksi cetta kevalo nirgunasca).

Cinta-kasih

“Wahai manusia, Aku telah memberimu sifat ketulusikhalasan dan mentalitas yang sama, serta perasaan berkawan tanpa kebencian; seperti halnya induk sapi mencintai anaknya yang baru lahir, demikianlah seharusnya engkau mencintai sesamamu”. (Atharva Veda III.30.1)

“Hendaknya dia tidak membenci segala makhluk, bersahabat penuh kasih sayang, bebas dari egoisme dan keangkuhan, bersikap sama dalam suka dan duka, serta bersifat pemaaf” (Bhagavad Gita XII.13)

Ketentuan hukum

Hendaknya jangan seorang pun melanggar Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Raja/ Pemerintah, baik karena menguntungkan seseorang maupun merugikan pihak yang tidak menghendaki” (Veda Smrti VII.13)

Upaya yang harus dilakukan dalam menangani radikalisme

Memulai menanamkan dan menghidupkan kembali pendidikan moral Pancasila untuk membangun karakter bangsa yang mengedepankan kejujuran sebagai karakter yang sangat penting. Seperti yang di katakan Bung Karno bahwa muara pendidikan adalah pembangunan karakter (nation and carakter building). Ajaran Catur Guru merupakan pondasi yang bisa memberikan kontibusi untuk ikut menjaga NKRI dari upaya-upaya radikal yang ingin mengganti Pancasila dan sistem pemerintahan NKRI, Dengan Catur Guru pertama-tama kita umat Hindu dengan yakin sepenuh-penuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa akan menjaga keutuhan NKRI ini bila kita mendukung pemerintah  (Guru Wisesa) yang berdasarkan Pancasila dan NKRI. Tidak kalah pentingnya memperhatikan pendidikan (Guru Pengajian), pendidikan yang memang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan NKRI. Sementara dengan orang tua (Guru Rupaka) sangan penting untuk menekankan agar para orang tua mendidik putra-putrinya agar terbentuk karakter yang menomorsatukan kejujuran dan keberanian.

 

Sumber: Keputusan Pesamuhan Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia
Nomor: 04/Kep/SP/PHDI/VIII/2018 tentang Pandangan agama Hindu terhadap radikalisme