EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Peserta Seleksi Dukun Pandita di Puncak Upacara Yadnya Kadasa

Ada sekitar tujuh orang dukun yang mengikuti proses seleksi pemilihan Dukun Pandita yang akan digelar pada puncak upacara Yadnya Kasada, Bromo pada Kamis 17 Juli 2019 kemarin.

Lokasi upacara Yadnya Kadasa adalah di Pura Luhur Poten, Kaldera Gunung Bromo. Tujuh dukun yang akan mengikuti proses seleksi tahun ini diantaranya, tiga dukun berasal dari Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, dan empat lainnya berasal dari Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Dua dukun yang berasal dari Desa Sedaeng, merupakan peserta yang bukan dari keturunan dukun karena sekarang siapa saja diperbolehkan menjadi Dukun Pandita asalkan mampu menjalani tugasnya dengan baik.

Mereka yang diseleksi akan menjalani proses Murunen atau pengujian dan yang diuji adalah bacaan mengenai mantra-mantra suci dari masing-masing dukun. Saat pengujian tiap dukun membaca mantra-mantra berisi tentang Ketuhanan, Leluhur dan Alam. Apabila mereka telah dinyatakan lolos ujian, maka barulah bisa menjadi Dukun Pandita.

Peranan Dukun Pandita bagi Umat Hindu Suku Tengger ada empat fungsi. Diantaranya menjaga kesucian diri untuk menentukan hari baik ritual, menghantarkan dan menyelesaikan setiap ritual serta sebagai pembimbing Umat Hindu.

Dilansir dari Detik.com Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan tujuh dukun yang mengikuti proses seleksi berasal didua kabupaten di Jawa Timur yakni Pasuruan dan Malang. “tujuh dukun yang akan mengikuti proses seleksi tahun ini, tiga dukun berasal dari Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, yang lainnya berasal dari Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan”.

Keberangkatan warga Suku Tengger ke upacara tersebut dari daerahnya masing-masing dimulai Kamis pagi pukul 01.00 WIB. Mereka berkumpul di Pura Luhur Poten untuk melaksanakan ritual dan pemilihan Dukun Pandita. Usai ritual dan pemilihan dukun, barulah Warga Suku Tengger akan membawa Ongkek atau sesaji hasil bumi ke puncak gunung Bromo untuk dilemparkan ke kawah Bromo sebagai akhir dari prosesi upacara. [RA]