EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Prajuru Pura Puseh Denpasar menginisiatifkan pelatihan kepemangkuan dan serati (pakar upakara)

Guna meningkatkan wawasan umat tentang penerapan konsep adat dan agama Hindu, Prajuru Pura Puseh Denpasar menginisiatifkan pelatihan tentang kepemangkuan dan serati (pakar upakara).

Pelatihan itu dibuka secara umum dan tanpa pungutan biaya. Rencananya, kegiatan sosial tersebut akan digelar 7 September mendatang dan akan diagendakan bertahap dan berkelanjutan.

Panitia berusaha konsisten menggelar pelatihan dan juga kegiatan keagamaan untuk meringankan beban masyarakat dalam penerapan nilai-nilai adat dan agama.

dikutip dari NusaBali.com Pengempon Pura Puseh Denpasar, Jro Mangku Wayan Sujana saat dijumpai pada Selasa 28 Agustus 2019 kemarin, di Pura Puseh Desa Adat Denpasar, Jalan Nusa Kambangan, Denpasar. Mengatakan “Bagaiamana menjawab agar biaya upacara dan upakara bisa dijangkau masyarakat bawah dan tanpa mengurangi literatur agama yang termuat dalam pustaka lontar sebagai sejarah keagamaan,” katanya.

Gerakan ini merupakan inisiatif bersama sejumlah pengempon pura, yang bertujuan mengajak umat untuk turut memikirkan tantangan terhadap penerapan nilai-nilai adat dan agama pada era milenial. Menurutnya, pada era yang serba terbuka ini masyarakat akan sangat kritis untuk urusan agama. Pemangku dan serati dalam hal ini diharapkan dapat memberi literasi kepada masyarakat tentang implementasi tersebut.

Selama ini Jro Mangku Sujana memandang sosialisasi tentang adat dan agama sudah cukup gencar, oleh karena itu, gerakan yang berkelanjutan baginya perlu, agar informasi tersebut dapat dipahami masyarakat.

Pelatihan ini juga melibatkan unsur lembaga keagamaan yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Keterlibatan PHDI dalam kegiatan ini adalah memberi acuan pelatihan sesuai literatur yang berlaku.

Hingga kini, sudah 70 orang pemangku yang mendaftar. Saat pelatihan, mereka akan mendapat informasi tentang inti-inti agama Hindu dan filsafat agama. Sedangkan serati, mereka akan mendapat informasi tentang upakara, sarana dan bahan upakara. program ini dilakukan selama tiga bulan, jadi peserta akan ikut pelatihan setiap Sabtu dan Minggu dengan durasi waktu dua jam. Pada awal kegiatan, mereka akan mengikuti upacara penyepuhan terlebih dahulu dan pada akhir pelatihan akan digelar pawintenan dasa guna bagi peserta.

Tahapan-tahapan itu digelar sebagai upaya meningkatkan kesadaran diri dan kesadaran spiritual peserta, sehingga pengetahuan yang diterima dalam pelatihan dapat diterapkan dalam masyarakat ke depannya. [RA]