EMAIL US AT info@dharmadana.id
CALL US NOW 0811 9999 101
Registrasi

Turut Berduka Berpulangnya Mayjen Pol (purn) Drs. IGM Putera Astaman

Bagi umat Hindu di Indonesia, nama Mayjen Pol (purn) Drs. IGM Putera Astaman sudah tak asing lagi. Ayahnya seorang polisi, I Gusti Ketut Mas, terakhir berpangkat Letnan Satu dan bertugas di Singaraja, Polda Nusra), Astaman mengaku lingkungan sekitarnya mempengaruhi perjalanan hidupnya sebagai polisi.

Dikalangan umat Hindu, kiprahnya terukir di hati umat khususnya di daerah-daerah saat ia bertugas dikepolisian.  Lahir di Denpasar 10 Juni 1938, karir Putera Astama di kepolisian cukup cemerlang. Ia pernah dua kali menjadi Wakil Kapolda, Wakapolda Sumbagsel (1983-84) dan Wakapolda Jateng (1984-85).

Dilansir dari mitrapol. com, jabatan Direktur di Mabes Polri juga dua kali, yaitu Direktur Pendidikan (1985-86) dan Direktur Bimbingan Masyarakat (1988-89). Jabatan Kapolda pun dua kali, yakni Kapolda Sulselra (1986-88) dan Kapolda Sumbagsel (1989-91). Sampai akhirnya Putera Astaman menjadi “orang nomor dua” di Mabes Polri sebagai Deputi Kapolri bidang Operasi (1991-93).

Pada akhir perjalanannya sebagai polisi, Putera Astaman menerima penghargaan Bintang Kebesaran Malaysia berupa Bintang Johan Mangku Negara (JMN) dari Yang Dipertuan Agung Sultan Azlan Muhibbuddin Shah di Istana Negara Kuala Lumpur.

Ini merupakan penghargaan tertinggi yang pernah diterima perwira tinggi Polri selama ini. Bersama Kolonel (Pol) Moerdiono Dharmo, Kasubdit Polisi Perairan Polri, Astaman menerima Bintang Kebesaran Malaysia itu pada 28 September 1993 silam.

Sejak menjabat Wakil Asisten Operasi Kapolri (jabatan ini sekarang sudah dihapus) tahun 1984 hingga menjadi Deputi bidang Operasi, Astaman dinilai banyak berperanan meningkatkan hubungan Polri dengan PDRM (Polis Di Raja Malaysia). Hubungannya dengan Tun Sri Mohammed Haniff (mantan Kepala Polisi Malaysia) sampai saat ini pun masih kental, meski tidak melalui jalur formal.

Selain mencetuskan konsep Samsat, Putera Astaman juga penggagas dan pelaksana “daerah bebas becak” di DKI Jakarta. Tahun 1971, saat menjabat Kepala Bagian Operasi Ditlantas Polda Metro Jaya, Astaman dibantu pihak-pihak terkait, melakukannya secara bertahap dengan beberapa rayon.

“Inilah yang paling mengesankan saya. Berperan sebagai pencetus ide, sekaligus pelaksananya. Itu kebahagiaan yang sukar dilukiskan,” katanya.

Saat menjabat Kaditlantas Polda Metro Jaya (1973-1978), Putera Astaman memperkenalkan Patroli Keamanan Sekolah (PKS) sekaligus memassalkannya. Waktu itu Astaman berpendapat, polisi tak bisa selamanya nongkrong terus-menerus di sekolah, untuk mencegah perkelahian pelajar.

Karena itu para siswa perlu dilatih secara swakarsa mengamankan lingkungan sekitarnya. Jika setiap sekolah memiliki 30 orang siswa yang berdisiplin tinggi dan memiliki visi kamtibmas ke depan, maka setidaknya mereka harus dapat mempengaruhi teman-teman lainnya. Konsep PKS ini ternyata merambah ke daerah- daerah lainnya. Bahkan di Jakarta sendiri, PKS berkembang dan didukung oleh Pemda DKI Jakarta.

Ketika menjabat Direktur Bimmas Polri (1988-89), Putera Astaman-lah yang pertama kali memprakarsai apel besar satpam. Setiap tanggal 30 Desember, satpam memperingati hari ultah korpsnya dengan semarak. Astaman melihat pentingnya peranan satpam untuk membantu tugas-tugas Polri.

Meskipun sudah pensiun dari dinas Polri sejak pertengahan tahun 1992 silam, ia masih memperlihatkan gairah hidup yang tinggi. Stamina tubuhnya pun masih kuat. Ini karena pengaruh Orhiba (olah raga hidup baru) yang ditekuninya sejak tahun 1987 ketika masih menjabat Kapolda Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) di Ujungpandang.

Menikah dengan Ayu Made Sutiti (52), ia dikaruniai empat orang anak yang sudah dewasa, masing-masing AA Ngurah Wirawan (28), AA Maswijaya (25), AA Mayun Wirastiti (23), dan AA Ngurah Agung Wirayudha (28).

Setelah memasuki masa pensiunnya, Putera Astaman yang telah menerima Bintang Bhayangkara Pratama dari Presiden RI ini, sempat diusulkan menjabat Irjen di Depsos dan Deparpostel, juga pernah dicalonkan sebagai Gubernur Bali, walau akhirnya mentok.

Putera Astaman yang hingga kini masih aktif sebagai Ketua Umum Lemkari, anggota Dewan Pembina Peruman Wulaka Pariwisada Hindu Dharma Pusat dan Ketua Bidang Sosial Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman, sebenarnya termasuk putra terbaik Polri.

Gagasan dan pemikirannya masih segar. Banyak sudah gagasan yang diajukan dan dilaksanakannya selama 34 tahun perjalanannya menjadi polisi. Bahkan beberapa di antaranya masih dipakai dan digunakan oleh Polri sampai sekarang.

Dari kantor barunya di gedung PT Djajanti Group di bilangan Jakarta Pusat, Putera Astaman yang menjabat salah seorang direktur perusahaan yang berperan dalam pembangunan kawasan Indonesia Timur ini kelihatan masih enerjik. Olah raga golf dan tenis tetap menjadi bagian hidupnya.

Kini, tepatnya kemarin Jumat 13 November 2020, ia telah berpulang menyatu dengan sang Pencipta. Semoga amor ing acintya.#